The effectivity of dragon fruit extract as UV protectant fo Bacillus thuringiensis fusions against cabbage cluster caterpillar, Crocidolomia binotalis (Lepidoptera: Crambidae)

Aplikasi agensia hayati di lapangan menghadapi permasalahan yang disebabkan oleh ultraviolet sinar matahari. Sinar ini menyebabkan agensia menjadi cepat terdegradasi, dan cepat sekali menjadi tidak efektif. Ekstrak buah naga diharapkan dapat meningkatkan ketahanan agensia di lapangan.

File poster dapat diunduh pada tautan berikut : poster draft_pdf

Ulat cendana, si kupu cantik yang belum banyak dikenal

Penulis: Sukirno

Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Ulat cendana yang memiliki nama latin Delias pasithoe merupakan kupu berukuran medium dan berwarna menarik. Di Indonesia, ulat cendana ini masih belum dimasukkan pada daftar serangga yang hidup pada cendana. Kupu cantik ini pada awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh penulis pada tanaman cendana di sekitar Kampus Fakultas Biologi UGM.

Telur diletakkan kupu betina secara berkelompok (15 – 52 telur/ kelompok) pada permukaan atas daun cendana yang masih muda. Setelah 4 – 5 hari, telur menetas dan larva muda akan memakan daun tempat diletakkannya telur. Larva hidup dan makan secara bergerombol. Pada stadium telur, kupu cendana rentan terhadap parasitasi Trichogramma spp., yaitu tabuhan berukuran kecil yang bereproduksi dengan strategi sebagai endoparasit serangga lain. Tabuhan betina parasitoid ini menginfeksikan telurnya ke dalam telur kupu cendana, sehingga telur mati dan tidak menetas. read more

Perkembangan populasi serangga pada tanaman cabai di Yogyakarta

Penulis: RC. Hidayat Soesilohadi, PBPH Wijaya, dan B. Santoso

Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

ABSTRAK

Keragaman dan populasi serangga  pada komunitas cabai memberi gambaran bagaimana pola perkembangan keragaman serta kemelimpahan populasi serangga. Serangga yang memanfaatkan komunitas cabai dapat dikategorikan dari potensi peran di dalam komunitas. Penelitian dilakukan di KP4-UGM pada area seluas 1.500 m2. Varietas cabai ditanam Capsicum. annuum var. Tn 99.  Pengamatan dilakukan sepanjang umur tanaman dimulai sejak cabai ditanam di bedeng. Serangga dikoleksi sebagai sampel dari area tersebut. Jenis serangga dan cacah individu dihitung setiap minggu. Pengukuran suhu, curah hujan, kelembaban udara dilakukan selama penelitian. Identifikasi serangga di lakukan di Lab. Entomologi Fakultas Biologi UGM dan Lab Entomologi Puslit Biologi LIPI, Cibinong. Perkembangan populasi dianalisis secara time series dengan memplot antara waktu sbg sb-x, dan jumlah takson sebagai sb-y. Hasil sementara menunjukkan sampai dengan tanaman cabai berusia 110 hari dikoleksi 10 Ordo serangga, yaitu Ordo Hemiptera, Coleoptera, Orthoptera, Diptera, Hymnenoptera, Odonata, Mantodea, dan Ordo Lepidoptera. Sampai dengan saat ini masih dilakukan pengambilan sampel dan identifikasi akan dilakukan pada Bulan Desember 2013 di Laboratorium Entomologi Puslit Biologi LIPI, Cibinong. read more

Kerentanan ulat kobis Plutella xylostella dan Helicoverpa armigera dari Kopeng dan Klaten terhadap Bacillus thuringiensis

Penulis: Siti Sumarmi

Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Gambar. Kerusakan krop kobis yang disebabkan oleh ulat kobis (dokumentasi field trip Kopeng 2017)

Resistensi adalah suatu kenyataan, penggunaan insektisida kimia yang telah diketahui menimbulkan dampak negatip terhadap lingkungan, kesehatan manusia dan resisten terhadap serangga telah mempengaruhi para ahli untuk mencari alternatip dalam upaya pengendalian serangga hama yang lebih spesifik dan aman. Seperti penggunaan  penyakit serangga, karena seperti pada manusia dan hewan lain, serangga dapat terinfeksi organisme seperti bakteri, virus dan fungi. Dalam kondisi tertentu misalnya kelembaban yang tinggi  atau jumlah populasi meningkat maka serangga dapat terserang penyakit, sehingga sehingga organisme penyakit serangga sangat penting digunakan untuk pengendalian serangga hama secara alami. read more

Bakteri entomopatogen potensial untuk pengendalian hama secara hayati

Penulis: Sukirno

Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM

Kesadaran masyarakat Indonesia akan kebutuhan terhadap bahan makanan yang mengandung residu insektisida dan resiko terjadinya pencemaran yang disebabkan oleh penggunaan insektisida berlebihan masih cukup rendah. Produk bahan makanan seperti sayur, beras, buah, produk daging dan susu yang dihasilkan dari sistem pertanian organik memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk pertanian konvensional. Untuk mendukung budidaya organik berbagai produk agensia pengendalian hama yang aman dan tidak menimbulkan residu telah diluncurkan. Beberapa agensia yang umumnya digunakan dan telah dikomersialkan adalah bakteri entomopatogen, seperti: read more